KEPEMIMPINAN NUSANTARA
“KEARIFAN LOKAL SEBAGAI NILAI DASAR KEPEMIMPINAN”

Kapitalis sama sekali tidak sesuai dengan nilai2 kearifan lokal nusantara. Malah, boleh dibilang bertentangan. Masyarakat Nusantara di masa lalu, ketika tetangganya mau membangun rumah, tanpa dimintai tolong, semua tetangga membantu dengan senang hati. Tahun 1990an saya masih menyaksikan peristiwa2 eksotis semacam ini di kampung halaman (lampung). Di setiap depan rumah, dipinggir jalan, sipemilik rumah selalu menyediakan gentong yg berisi air bersih. Ini diperuntukkan oleh siapapun yg lewat di depan rumah, siapa tau sedang kehausan atau mau membersihkan muka.  Dan masih bnyak lagi cerita2 masa lalu yang menggambarkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bukan brpaham kapitalis. Bangsa kita berpaham "kemanusiaan".
Seiring dg perkembangan zaman yg begitu dahsyat, teknologi dan informasi juga berkembang tanpa bisa dikendalikan, akhirnya nilai2 itu ikut tergerus. Nilai2 lama mulai bergeser. Yang tadinya mengutamakan, sekarang mjd lebih individual. Handphone turut merubah kepribadian bangsa ini. Tapi, nampaknya ini permasalahan global, tdk hanya di Indonesia.
            Kearifan lokal dapat ditanamkam sejak dini kepada anak2 kita (kalau nanti sudah nikah dan punya anak). Ajari mereka gotong royong, ajari mereka kebersamaan, cinta kasih, ajari mereka menghargai orang lain. Pendidikan keluarga sangat menentukan, orang tua punya peran penting dalam membentuk kepribadian anak agar tdk menjadi orang kalitalis.
Tentu ini tidak mudah, dan nanti akan berbenturan dengan keadaan yg sangat "keras" di luar sana. Tapi, org tua tdk boleh menyerah. Jangan biarkan anak2 kita jd korban paham2 yang negatif.
Wayang yg notabene sebagai salah satu pilar penyangga kearifan lokal sudah mulai terinfeksi virus kalitalis mbak. Ini keprihatinan kita bersama. Dulu nanggal wayang upah dalangya cukup hasil2 panen si punya rumah. Padi/beras kelapa, jagung, gula, sayur2an, dsb. Sekarang, banyak dalang yg pasang tarif, mau nanggap saya, waninpiro? kalau enggak sekiran ratus juta, enggak. 
            Makanya, dalang itu juga harus belajar nilai2 kearifan lokal juga, tidak cukup hnya bisa memainkan wayang dg trampil. Wayang itu tontonan tapi juga tuntunan. Tidak hanya hiburan tp juga memiliki fungsi pendidikan. Syg, skrg banyak dalang yg mementingkan gelamour. Yg penting gue pentas terus, banyak duit, banyaj mobil, banyam gebetan.  tapi ini tidak semua ya. Sy bukan termasuk dalang jenis ini. Seni pedalangan, bagi saya adalah media dakwah yg universal, tidak memandang apa agama, golongan, dan tingkat sosialnya, wayang bisa digunakan sbg alat untuk membangun mental dan spiritual audiens.       
            Melaui setiap adegan, kita bisa sisipkan nilai2 kebijaksanaan yg bisa dieterima oleh masyarakat ug beragam. Demimian kira2 mbak Pendidikan memiliki tiga pilar yg disebut Tri Wiyata (Ki Hadjar Dewantara), yaitu pendidikan keluarga, pendidikan di sekolahan, dan pendidikan lingkungan. Ketiganya memikili peran yang penting dalam membentuk kepribadian anak. Kalau saya mas, saya memilih untuk menyekolahkan anak saya di desa sejak TK rencananya sampai SD. Saya kurang begitu tertarik dg sekolahan2 favorit di kota. Bukan karena sekolahannya tdk bagus, tp lingkungan kota cenderung lebih terasa aroma kapitalis dan individualisnya hehe. Sekolah di desa itu, sederhana, tapi masih kental dg tata krama, gotong royong, kesederhanaan.           
            Untuk menciptakan lingkungan rumah yg sesuai dg keinginan kita, itu tidak mudah. Ya, setidaknya kita selalu dekatin si anak, kita berikan pengertian ini baik, itu kurang baik.
Misalnya, Anak sy, saya ajarin basa Jawa Krama mas. Tujuannya agar si anak belajar tata krama dan tidak kehilangan jati dirinya. Setelah sering bergaul di lingkungan, wah, anak sy jg teroengaruh lingkungan. Tinggal kita atau lingkungan yg akan menang. Tentu, orang tua harus lebih giat lagi jangan sampai lingkungan lebih mendominasi pendidikan anak kita.
Bagaimana jika kita diberi amanah yang besar sama seseorang, sudah dilakukan tetapi sulit mempertahankan amanah tersebut seakan hal itu merupakan beban yang berat dan membuat putus asa ingin memupuskan amanah itu. Tetapi di sisi lain, tidak ingin mengecewakan seseorang yang telah memberi amanah itu. bagaimana caranya mempertahankan amanah itu disaat situasi seperti itu?
Bagi saya, sepahit apapun, kejujuran itu lebih baik. Saat kita mau terima amanah, tentu kita harus pertimbangkan, saya mampu enggak ya? Kalau kira2 mampu, dan ini bermanfaat bagi kebaikan bersama, boleh kita ambil. Tapi, kalu amanah itu di luar kemampuan kita sebaiknya jangan dipaksakan. Saat kita menerima amanah, kita harus punya komitmen, saya harus berusaha semampunya, semaksimal mungkin. Jika diperjalanan trnyata dihadang oleh berbagai hambatan, kita hadapi semampunya.
Jika memang kita sudah tidak mampu padahal kita sudah berusaha sampai berdarah-darah. Sebaiknya jujut sama si pemberi amanah. Yg penting sdah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya, itu diluar kemampuan kita.  Apa yg termuat di Hasta Brata itu idealnya di tingkat realitas, ya tidak mudah mencari orang yg mampu seperti itu. Keberhasilan seorang pemimpin bagi saya tidak hanya dilihat dari seberapa baik dia menjalankan hasta brata, tetapi seberapa makmur, adil, dan sentausa negaranya. Kurang baik tentu bersifat relatif, untuk menbatakan baik atau buruk, kita membutuhkan pembanding. Misalnya, ada pemimpin yg hanya mampu menjalankan 7 brata, sedangkan peminpin yg lain hanya bisa 3 brata. Tentu yang 7 brata, kendati belum sempurna bisa dianggap pemimpin yg baik.  Pewayangan lebih mengajarkan dan membicarakan masalah2 moralitas, nilai2 kemanusiaan secara universal mbak. Tidak begitu banyak membahas agama secara tekstual. Pandangan saya terhadap masalah yg sedang hangat dibicarakan.
Masyarakat kita perlu belajar spiritualitas (welas asih) mbak. Yg saya maksud di sini, welas asih yg universal. Kita perlu belajar menyayangi semua mahluk, jangan hanya dibatasi oleh agama, golongan, dan suku. Agama itu sarana untuk melatih spiritualitas, sarana untuk membangkitkan rasa welas asih yg universal. Sayang, jika agama yg kita luhurkan justru dijadikan alat untuk memecah belah kerukunan manusia. Dengan welas asih, moralitas pasti terjaga, berbicara kasar pasti tidak trjadi, dendam akan jauh dari kita. Peperangan, perselisihan akan jauh dari bangsa ini. Welas asih universal adalah kunci untuk memperbaiki bangsa ini. Kita mulai dari diri kita bersama sama Terima kasih sahabat2 saya semua. Anda semua adalah generasi penerus bangsa ini. Baik atau buruk bangsa ini dikemudian hari ada dipundak panjenengan dan generasi di bawah kita. Saya mengajak anda semua, ayuk rukun.
Mari, mita bergandeng tangan, mempelajari kearifab lokal yg mengandung nilai2 luhur agar bangsa kita menjadi bangsa yg berperadaban tinggi. Jangan biarkan bangsa ini rusak oleh sekompok orang yg memaksakan kebenaran versinya sendiri. Dengan kerukunan, kita yakin bisa membawa bangsa ini menjdi bangsa yg adil, makmur, dan sentausa.
Jika banyak kesalahan yg saya lakukan, saya minta maaf ya teman. Semoga ini manjadi ajang silaturahmi.

Komentar